Sekda Touna Ajak Masyarakat Bersama Jaga Kelestarian Taman Nasional Togean

3 menit membaca
Redaksi

Ampana, Sulteng – Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una menyatakan dukungan penuh terhadap upaya memperkuat pengawasan dan perlindungan kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tojo Una-Una, Alfian Matajeng, S.Pd., M.AP., saat memberikan sambutan pada pembukaan Pelatihan Monitoring, Control, and Surveillance (MCS) Berbasis Masyarakat, Selasa (1/9/2026), di Aula Hotel Lawaka, Ampana.

Pelatihan yang dilaksanakan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean bekerja sama dengan ASEAN ENMAPS tersebut berlangsung pada 1–6 September 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan sistem pemantauan, pengawasan, dan pengendalian di kawasan TNKT dengan melibatkan masyarakat secara aktif.

Dalam sambutannya, Alfian menegaskan bahwa Taman Nasional Kepulauan Togean memiliki kekayaan alam, ekosistem, serta keunikan sosial dan budaya yang merupakan aset daerah sekaligus aset bangsa.

“Karena itu, menjaga kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean merupakan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Menurut Alfian, tanggung jawab menjaga kawasan konservasi tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah maupun pengelola taman nasional. Keterlibatan aktif masyarakat yang hidup dan menggantungkan kehidupan di sekitar kawasan menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Ia menilai masyarakat memiliki peran strategis karena keberadaan sumber daya alam di kawasan Togean tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan saat ini, tetapi juga menyangkut keberlangsungan kehidupan generasi yang akan datang.

“Kolaborasi dan keterlibatan aktif, terutama masyarakat yang hidup dan mencari kehidupan di sekitar kawasan tersebut, sangat penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan bagi anak cucu kita,” ujarnya.

Alfian menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una mendukung sepenuhnya pembangunan kolaborasi antara Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, pemerintah daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, masyarakat, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat dan berbagai mitra lainnya.

Ia menekankan bahwa kolaborasi tersebut harus dibangun dalam semangat Sivia Patuju, yang bermakna satu tujuan.

“Meski kita memiliki peran dan kehendak yang berbeda sesuai tugas dan fungsi masing-masing, kita harus memiliki komitmen yang sama, yaitu menjaga Taman Nasional Kepulauan Togean agar tetap lestari dan memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” katanya.

Lebih lanjut, Alfian mengatakan upaya menjaga kelestarian TNKT juga sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2025–2029.

Menurutnya, pembangunan daerah harus tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam, termasuk potensi yang berada di wilayah Kepulauan Togean.

“Taman Nasional Kepulauan Togean harus kita jaga untuk kepentingan pembangunan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kekayaan alam Kepulauan Togean memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik melalui sektor pariwisata berkelanjutan maupun perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Namun, potensi tersebut hanya dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila ekosistemnya tetap terjaga.

Kerusakan terumbu karang, hilangnya mangrove, degradasi padang lamun, serta menurunnya kualitas lingkungan pesisir dan laut, kata Alfian, pada akhirnya dapat mengancam mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat mengubah paradigma mengenai konservasi. Menurutnya, konservasi tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang menghambat pembangunan.

“Saya mengajak seluruh masyarakat untuk menumbuhkan paradigma dan pemahaman bahwa konservasi bukan menghalangi pembangunan. Sebaliknya, konservasi adalah fondasi bagi pembangunan yang berkelanjutan,” tegas Alfian.

Ia juga menekankan pentingnya kehadiran negara dalam memastikan kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean tetap terjaga melalui sistem pengawasan, pemantauan dan pengendalian yang efektif.

“Negara harus hadir untuk melakukan pengawasan, monitoring dan pengendalian terhadap Taman Nasional Kepulauan Togean,” pungkasnya.

Pelatihan MCS berbasis masyarakat tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan dalam melakukan pemantauan kawasan, sekaligus membangun sinergi untuk menjaga kelestarian ekosistem Taman Nasional Kepulauan Togean secara berkelanjutan.

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

x
x