
Ampana, Sulteng – Dinas Pariwisata Kabupaten Tojo Una-Una akan menggelar Festival Budaya Bakulupi 2026 pada 12–16 September 2026 di Lapangan Sepak Bola Kelurahan Bailo Baru, Kecamatan Ampana Kota.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tojo Una-Una, Asrin W. Soga, S.Ag., MAP, mengatakan Festival Budaya Bakulupi merupakan upaya pemerintah daerah untuk melestarikan kembali budaya dan adat istiadat yang menjadi identitas masyarakat Tojo Una-Una.
Hal itu disampaikan Asrin saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Senin (24/8/2026).
Menurut Asrin, kegiatan tersebut sebelumnya telah dilaksanakan oleh Kelurahan Bailo dan Bailo Baru pada 2025 dengan melibatkan partisipasi masyarakat serta pemerintah kelurahan di Kecamatan Ampana Kota.
“Dari situ kemudian kita masukkan dalam kalender event daerah. Sejak awal tahun, kalender event ini sudah kita kirim ke Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Provinsi,” ujar Asrin.
Ia menjelaskan, Festival Budaya Bakulupi mendapat perhatian karena dinilai memiliki rangkaian kegiatan yang unik dan mengangkat kekayaan budaya lokal.
Karena itu, pihaknya berencana mengundang Kementerian Pariwisata untuk hadir sekaligus melakukan kurasi terhadap pelaksanaan festival tersebut.
“Kita mengundang langsung dari Kementerian Pariwisata untuk mereka kurasi nantinya. Jadi ke depan ini sudah menjadi kalender event daerah dan dilaksanakan setiap tahun,” katanya.
Asrin berharap, dengan masuknya Festival Budaya Bakulupi dalam kalender event daerah dan melalui proses kurasi, kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi festival yang lebih besar serta melibatkan daerah lain.
“Kalau sudah masuk dalam kalender event, kegiatan ini untuk tahun-tahun berikutnya sudah bisa melibatkan kabupaten atau kota lain,” ujarnya.
Asrin menegaskan, Festival Budaya Bakulupi bukan sekadar kegiatan perlombaan. Festival ini diarahkan sebagai ruang pelestarian budaya yang mengangkat lima budaya atau kesukuan yang ada di Tojo Una-Una.
“Ini kegiatan budaya yang mengangkat lima budaya, lima adat istiadat, lima kesukuan yang ada di Tojo Una-Una,” jelasnya.
Lima unsur budaya tersebut meliputi Taa, Bare’e, Bobongko, Togian, serta satu kelompok budaya yang berada di wilayah Malei dan sekitarnya.
Dalam pelaksanaannya, masing-masing budaya akan menampilkan identitas dan kekhasan daerahnya.
“Tidak ada lomba. Jadi hanya pelestarian budaya. Tampilan itu membawa identitas desa masing-masing yang selama ini mungkin sudah hilang. Kita gali kembali untuk menjadikan identitas daerah kita,” kata Asrin.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar generasi saat ini dapat kembali mengenal budaya yang berkembang di wilayah Tojo Una-Una sekaligus menjaga keberlangsungannya.
Selain pelestarian budaya, Festival Bakulupi juga diharapkan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.
Asrin mengatakan, pihaknya melibatkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dalam kegiatan tersebut.
“Kita memang ingin mendorong dari segi ekonomi. Kita melibatkan beberapa UMKM, khususnya di Touna, dan tidak mengabaikan UMKM yang ada di wilayah Kelurahan Bailo Baru,” ujarnya.
Ia menyebutkan, melalui Dinas Perdagangan terdapat sekitar 30 UMKM yang akan mengikuti kegiatan tersebut. Sementara dari Kelurahan Bailo dan Bailo Baru diperkirakan terdapat sekitar 20 UMKM.
Dengan demikian, total terdapat sekitar 50 stan UMKM yang disiapkan di lokasi festival.
“Kurang lebih 50 UMKM yang masuk di dalam lokasi,” katanya.
Festival tersebut juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya Bank Mandiri, Toyota Kalla Poso dan Bank Indonesia. Asrin menyebut masih terdapat kemungkinan adanya sponsor lain yang turut memberikan dukungan.
Untuk menyukseskan pelaksanaan festival, Dinas Pariwisata juga menyiapkan undangan bagi sejumlah pejabat dan instansi.
Di antaranya Kementerian Pariwisata, Kementerian Desa, Gubernur Sulawesi Tengah, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Sulawesi Tengah, Pangdam, Kapolda, serta sejumlah bupati dan wali kota.
Asrin berharap kehadiran berbagai pihak tersebut dapat memperkuat posisi Festival Budaya Bakulupi sebagai salah satu agenda budaya daerah yang dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah melestarikan kembali budaya-budaya kita dulu,” pungkasnya.




Tidak ada komentar